Pular para o conteúdo
  • Entrar
  • Registrar
Dados Abertos UFERSA
  • Conjuntos de dados
  • Organizações
  • Grupos
  • Sobre
  1. Início
  2. Usuários
  3. Hasan Basri
  • Conjuntos de dados
  • Fluxo de Atividades

Fluxo de Atividades

  • Hasan Basri atualizou seu perfil há 7 meses

  • Hasan Basri registrou-se há 7 meses

Hasan Basri

Air Mata di Tanah Haram: Perjalanan Cinta dan Doa Seorang Ibu dan Putrinya

Setiap perjalanan menuju Tanah Suci punya cerita. Ada yang berangkat karena panggilan hati, ada yang karena nazar, dan ada pula yang datang setelah perjuangan panjang penuh air mata. Begitulah kisah Bu Rina (48) dan putrinya, Zahra (21), yang berhasil menunaikan ibadah ke Tanah Suci setelah menabung selama hampir tujuh tahun.

Mereka bukan berasal dari keluarga kaya. Bu Rina bekerja sebagai penjahit rumahan, sementara Zahra masih kuliah di semester akhir. Tapi semangat mereka untuk bisa mencium Hajar Aswad dan berdoa di depan Ka’bah tidak pernah padam. “Saya cuma ingin Zahra tahu, bahwa jika kita sungguh-sungguh dan berdoa, Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan di waktu terbaik,” kata Bu Rina dengan suara lembut.

Keutamaan Umrah: Ibadah yang Menghapus Lelah dan Duka Sejak lama, Bu Rina memimpikan bisa berangkat ke Tanah Suci bersama putrinya. Ia tahu betul betapa besar keutamaannya, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Umrah satu ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Setiap kali menjahit, Bu Rina menyisihkan sebagian upahnya untuk dimasukkan ke dalam toples kecil bertuliskan “Baitullah”. Kadang hanya sepuluh ribu, kadang lima puluh ribu — tapi baginya, setiap lembar yang ditabung adalah wujud cinta dan harapan.

“Waktu itu berat, bestie,” katanya sambil tertawa kecil. “Tapi kalau ingat Ka’bah, semua capek hilang. Saya yakin, Allah سبحانه وتعالى lihat usaha hamba-Nya, bukan jumlah uangnya.”

Tips Menabung Ala Ibu Rumah Tangga Perjuangan Bu Rina menunjukkan bahwa menabung untuk ibadah besar bukan tentang besar kecilnya penghasilan, melainkan tentang ketulusan niat. Berikut cara yang bisa kamu tiru darinya:

Sisihkan di awal, bukan di sisa. Ia selalu memprioritaskan tabungan ibadah di awal setiap menerima bayaran.

Gunakan celengan fisik dan rekening syariah. Ia memakai dua sistem agar lebih disiplin.

Ajarkan anak untuk ikut berkontribusi. Zahra juga membantu dengan hasil kerja freelance-nya.

Tulis visi spiritual. Di dinding kamar, mereka tempel foto Masjidil Haram sebagai pengingat agar tidak menyerah.

Dengan strategi ini, selama bertahun-tahun mereka perlahan tapi pasti mengumpulkan biaya keberangkatan tanpa harus berutang.

Umrah di Usia Berbeda: Ikatan Hati Ibu dan Anak Bagi Zahra, perjalanan ke Tanah Suci bersama ibunya adalah pengalaman yang mengubah hidup. “Saya melihat ibu menangis di depan Ka’bah, dan saya sadar... selama ini beliau bukan hanya menabung uang, tapi menabung doa,” katanya.

Perjalanan itu menjadi ruang refleksi bagi keduanya. Di setiap tawaf, mereka saling menggenggam tangan erat — tanpa kata, tapi dengan makna yang dalam. Zahra merasa inilah cara Allah سبحانه وتعالى menunjukkan cinta-Nya: lewat ibu yang sabar, kuat, dan penuh kasih.

Bu Rina sendiri menganggap ibadah kali ini sebagai hadiah terbesar dalam hidupnya. “Saya ingin Zahra selalu ingat bahwa hidup boleh sulit, tapi kalau kita dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, semua jadi ringan,” ujarnya sambil menatap anaknya penuh bangga.

Umrah Mandiri dan Legalitasnya Yang menarik, perjalanan mereka kali ini dilakukan secara umrah mandiri. Zahra, yang lebih melek teknologi, membantu ibunya mengurus semua kebutuhan perjalanan — dari tiket, hotel, hingga visa. Mereka memilih rute hemat, mengatur jadwal sesuai kenyamanan, dan memanfaatkan layanan online terpercaya.

Namun sebelum berangkat, mereka memastikan semua dokumen resmi sesuai dengan aturan pemerintah. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Haji dan Umrah, jamaah tetap wajib mematuhi ketentuan legal agar perjalanan ibadah berjalan aman dan lancar.

Mereka pun mengurus visa melalui layanan jual visa umroh mandiri

yang resmi dan terverifikasi. “Kami jadi tenang karena tahu semuanya legal dan sesuai prosedur,” ujar Zahra.

Langkah itu membuat perjalanan mereka bebas dari kendala administratif dan sepenuhnya fokus pada ibadah.

Saat Doa Menjadi Nyata di Depan Ka’bah Ketika akhirnya mereka tiba di Masjidil Haram, Bu Rina tak mampu menahan air mata. Ia memeluk putrinya erat di depan Ka’bah sambil berbisik, “Nak, inilah jawaban dari setiap doa Ibu selama ini.”

Zahra pun menangis. Ia sadar, semua perjuangan selama bertahun-tahun, semua pengorbanan kecil yang dilakukan ibunya, kini berbuah manis. Setiap langkah thawaf, setiap doa di Raudhah, dan setiap sujud di tanah suci menjadi simbol cinta antara ibu, anak, dan Sang Pencipta.

Sejak pulang, keduanya menjadi lebih dekat dengan Allah سبحانه وتعالى dan lebih sabar menjalani hidup. Zahra bahkan mulai menulis buku kecil berjudul “Doa dari Tangan Ibu” untuk menginspirasi teman-temannya agar menabung dan beribadah sejak muda.

“Umrah bukan akhir perjalanan,” kata Bu Rina pelan. “Tapi awal dari hidup baru yang lebih bersyukur.”

Mereka kini bertekad menabung lagi untuk bisa berangkat bersama keluarga besar. Karena bagi mereka, perjalanan spiritual yang paling indah bukan hanya tentang kepergian, tapi tentang bagaimana cinta dan doa membawa seseorang mendekat kepada Allah سبحانه وتعالى — selangkah demi selangkah, dari rumah sederhana menuju rumah Allah yang agung.

Seguidores
0
Conjuntos de dados
0
Edições
0
Nome de usuário
basrihasan
Membro desde
1/Novembro/2025
Estado
active

Universidade Federal Rural do Semi-árido - UFERSA

Av. Francisco Mota, 572 - Bairro Costa e Silva

CEP: 59.625-900 - Mossoró/RN - Brasil

Contato: +55 84 3317-8249

Desenvolvido por SUTIC

Impulsionado por CKAN